Memilih Note Taking Apps 2018

Jadi ceritanya bulan ini saya lagi pindahan. Bukan pindahan rumah apalagi pindahan kantor, karena memang saya tidak punya kantor 🙂 Rumahku adalah kantorku surgaku!

Saya mencoba pindah ecosystem, dari mixing Google (Android) dan Apple (MacOS) device, ke full Apple device ecosystem. Ya, singkatnya saya baru beli iPhone 🙂

Saya sudah menggunakan MacBook Pro (MBP) sejak 2009 dan tidak pernah berpaling ke lain hati. Saya cukup puas dengan performa dan kemudahan memakai laptop buatan Apple tersebut.

Pertama memakai MBP saya sempat bekerja di ecosystem Windows (via Boot Camp) selama hampir setahun, baru pada tahun 2010 saya mulai full menggunakan MacOS (dulu namanya OS X). Jadi sejak tahun 2010 bisa dikatakan saya tidak pernah jarang menggunakan Windows lagi.

Dan sekarang saya beli iPhone karena ingin mencoba sepenuhnya berada di ekosistem Apple. (Sebenarnya saya juga punya iPad 2017, tapi selama ini masih jarang digunakan, hanya untuk baca ebook saja. Mungkin lain kali akan saya tulis pengalaman menggunakan iPad).

Sempat terpikir juga bahwa ini sama saja dengan menjebak diri sendiri, karena yang terjadi sekarang adalah saya berusaha full menggunakan aplikasi bawaan Apple. Dropbox sudah saya pindah ke iCloud. Playlist Spotify sudah saya pindahkan ke Apple Music. Begitu juga Google Photos sudah saya ganti dengan Apple Photos.

Jadi pastinya nanti akan sulit bagi saya untuk meninggalkan Apple ecosystem dan kembali menggunakan Android atau Windows misalnya. Mari kita lihat saja nanti apakah ini akan berhasil dengan baik 🙂

Oya, artikel ini ditulis bukan untuk menyombongkan diri ya, tapi sekedar untuk berbagi kebahagiaan pengalaman!

Sesuai dengan judul, pada artikel ini saya akan mencoba berbagi pengalaman dalam menggunakan dan memilih note taking app atau aplikasi untuk membuat catatan. Setelah beberapa hari memindahkan dan menyatukan semua catatan ke Apple Notes, saya jadi punya ide untuk membuat artikel ini.

Beberapa note taking app yang pernah saya coba adalah Evernote, OneNote, Google Keep, Simplenote dan Apple Notes.

1. Evernote

mac-en-home

Evernote bisa dibilang sebagai pionir note-taking app modern karena sejak awal sudah mendukung sinkroninasi antar device (perangkat) dan antar OS (sistem operasi). Dan saya rasa ini adalah pertimbangan banyak orang dalam memilih note-taking app sekarang ini. Catatan yang kita buat di smartphone misalnya, bisa dengan segera dibuka di laptop dan perubahan yang kita lakukan di satu perangkat akan segera kita dapatkan di perangkat lainnya.

Sejak pertama kali menggunakan evernote pada tahun 2013, saya tidak begitu menyukainya. Waktu itu saya coba install aplikasi untuk MacOS dan sempat menggunakannya beberapa bulan sebelum akhirnya saya uninstall. Tampilan yang cukup ramai dan terlalu banyak fitur mungkin membuat saya merasa terintimidasi 🙂

Evernote mendukung catatan berupa text, gambar, voice note, tulisan tangan dan juga kliping halaman web. Untuk mengelompokan catatan, kita bisa menggunakan fitur Notebook dan juga Tag.

Pengalaman kedua menggunakan Evernote ketika saya baru saja membeli Samsung Galaxy Note 3 Neo (Note series paling murah) pada akhir tahun 2014. Waktu itu aplikasi Evernote sudah ter-install sebagai aplikasi bawaan hape Samsung Note series. Karena tinggal pakai saja tidak ada salahnya dong kalau saya coba.

Waktu itu fitur yang paling sering saya pakai adalah voice note. Ceritanya lagi pengin latihan membuat podcast, yang sampai sekarang juga belum terwujud. Beberapa lama mencoba menggunakan Evernote versi Android tersebut ternyata tidak bisa membuat saya tertarik untuk melanjutkannya. Akhirnya aplikasi tersebut juga saya uninstall.

Evernote sendiri adalah aplikasi yang sangat populer, banyak orang yang memakainya dan sering direkomendasikan sebagai note-taking app terbaik. Jadi buat yang belum pernah mencoba, silahkan mencoba memakainya sendiri, mungkin Evernote cocok untuk Anda.

Evernote bisa dipakai secara gratis untuk sinkronisasi dua perangkat, dan terdapat upgrade ke premium untuk penggunaan yang lebih advance. Evernote tersedia untuk Android, iOS, MacOS dan Windows.

Oya sebelum melanjutkan artikel ini, ada hal yang ingin saya sampaikan. Semua pendapat saya dalam blog ini adalah murni preferensi saya. Sesuatu yang bagus dan cocok bagi saya, belum tentu bagus atau cocok bagi orang lain. Kadang saya sendiri juga tidak bisa memberikan alasan kenapa saya menyukai atau tidak menyukai sesuatu.

2. Simplenote

screen-shot-2017-12-22-at-9-05-33-am

Simplenote adalah aplikasi buatan Automattic, perusahaan yang juga mengelola dan mengembangkan WordPress. Saya menyukai tampilan Simplenote yang bener-bener simple, dan juga proses sinkronisasi yang sangat cepat.

Saya pertama kali menggunakan Simplenote pada tahun 2014, dan bertahan sampai awal tahun 2018 ini. Hampir semua catatan saya simpan di Simplenote, dan boleh dibilang saya adalah salah satu pemakai yang puas dengan aplikasi ini. Setiap kali ganti hape, Simplenote adalah salah satu aplikasi yang pertama kali saya install.

Ada beberapa kelemahan Simplenote, yang juga menjadikannya sebagai aplikasi yang benar-benar simple. Kita hanya bisa membuat catatan berupa text dan tidak bisa membuat kategori / notebook. Pengelompokan catatan hanya bisa menggunakan Tag. Buat penggemar tabel, Simpenote juga tidak bisa mengakomodir catatan berupa tabel.

Sebenarnya beberapa kelemahan itu bisa diakali dengan menggunakan Markdown. Simplenote sudah mendukung Markdown, dan dengan beberapa kode / syntax kita bisa menampilkan gambar, tabel dan banyak hal lainnya.

Simplenote tersedia di semua sistem operasi dan yang penting adalah free alias gratis. Sinkronisasi yang cepat, aplikasi yang ringan dan tidak perlu membayar, saya rasa tidak ada salahnya untuk mencoba aplikasi ini.

3. OneNote

OneNote_for_Mac_2016_screenshot

Onenote saya coba pakai setelah merasa tidak cocok dengan Evernote. Sekitar awal tahun 2014 OneNote membuat aplikasi untuk Mac dan masuk recommended apps di Mac App Store. Saya install dan langsung merasa kecewa.

OneNote ini adalah aplikasi buatan Microsoft dan memang sudah tersedia lebih dulu untuk Windows user. Pertama kali memakai OneNote langsung terasa bahwa aplikasi ini sangat lemot. Setiap kali menyimpan catatan, terasa sangat lama prosesnya. Padahal sinkronisasi adalah pertimbangan pertama untuk memilih aplikasi di era cloud sekarang ini 🙂

Tampilan OneNote sendiri sangat khas tampilan aplikasi Windows. Lebih tepatnya sangat mirip dengan tampilan aplikasi Microsoft Office, karena memang sempat menjadi salah satu aplikasi bundle dalam Office Suite.

Untuk mengelompokan catatan, kita bisa menggunakan fitur Notebook, Section dan Page. OneNote mendukung semua jenis catatan seperti halnya Evernote. Text styling dan heading juga sangat lengkap.

Banyak orang yang cocok menggunakan aplikasi OneNote ini, terutama untuk Windows user kali ya. Saya sendiri merasa aplikasi ini cukup lemot, baik saat membuka aplikasi maupun saat proses sinkronasi. Oya, OneNote ini gratis dan tersedia di Windows, MacOS, Android dan iOS.

4. Google Keep

Google Keep

Dari namanya kita pasti sudah bisa menebak kalo Google Keep ini adalah aplikasi buatan Google. Tampilan yang simpel dan membawa nama besar Google, membuat saya tertarik untuk mencobanya.

Karena memiliki beberapa kelebihan dibanding Simplenote, saya sempat menggunakan Google Keep ini sebagai note taking app utama. Bahkan karena tidak tersedia aplikasi untuk MacOS, saya sempat membuat launcher sendiri menggunakan Fluid.

Tapi setelah menggunakan Google Keep selama beberapa waktu, akhirnya saya merasa tidak cocok dengan aplikasi ini. Tampilan yang terlalu random dan susah diatur, membuat proses pencarian arsip catatan jadi ribet. Memang ada fitur Tag dan Search, tetapi hasil yang ditampilkan juga tetap berantakan dan tidak enak dilihat 🙂

Google Keep ini gratis dan tersedia untuk Android, iOS dan web. Untuk pengguna MacOS bisa menggunakan Fluid untuk membuat web launcher, sehingga seperti mempunyai aplikasi sendiri dan bisa di taruh di Dock.

5. Apple Notes

Apple Notes

Apple Notes adalah note taking app bawaan Apple, tersedia di iOS dan MacOS. Sebenarnya aplikasi ini sudah nongkrong sejak awal di laptop MacBook, tapi biasanya hanya saya lihat saja dan tidak pernah disentuh 🙂

Sekitar akhir tahun 2017 saya mencoba mencari note taking app alternatif setelah merasa bahwa Simplenote ternyata kurang powerful.

Alternatif pertama yang saya coba adalah Google Keep, tapi setelah berapa lama ternyata tidak cocok. Kemudian coba menggunakan Evernote lagi, ternyata masih tidak nyaman untuk dipakai.

Akhirnya saya mencoba untuk menggunakan OneNote lagi. Awalnya saya cukup puas dengan tampilan baru yang ditawarkan OneNote, aplikasi juga terasa lebih ringan dibandingkan aplikasi tahun 2014. Bahkan saya sudah niat berlangganan Microsoft Office 365, biar nanti sekalian semua file di Dropbox pindah ke OneDrive dan full menggunakan aplikasi Microsoft untuk kepentingan kerja.

Tetapi setelah mencoba menggunakan OneNote selama beberapa bulan, terasa bahwa proses sinkronisasi catatan kurang cepat. Bagi saya yang sudah terbiasa menggunakan Simplenote dengan proses sync yang cepat, proses sync OneNote terasa lambat. Akhirnya saya kembali mencoba mencari alternatif aplikasi lain.

Saya mencoba mempelajari fitur Apple Notes, dan ternyata pada iOS 11 dan MacOS 10.13 fitur-fiturnya sudah sangat lengkap dan tidak kalah dengan Evernote dan OneNote. Dan yang paling penting tampilan Apple Notes sangat simpel, tapi tetap powerful.

Akhirnya saya mencoba menggunakan Apple Notes di Macbook, dan ternyata cukup puas dengan fitur dan performanya. Sampai akhirnya saya membuat kesimpulan bahwa saya harus beli iPhone, biar lebih kaffah dalam menggunakan aplikasi-aplikasi Apple lainnya 🙂

Jadi begitulah saudara-saudara apa yang sebenarnya terjadi, saya beli iPhone agar bisa menggunakan Apple Notes, sangat sederhana bukan 🙂

Oya, dalam tulisan ini saya tidak mempertimbangkan fitur kolaborasi ya, soalnya saya belum butuh fitur itu 🙂 Tapi kayaknya semua note taking apps yang saya bahas di atas sudah mendukung fitur tersebut.

Biar lebih optimal bekerja di lingkungan Apple, saya berusaha menggunakan semua aplikasi bawaan Apple. Dan sejauh ini saya cukup puas, laptop terasa lebih ringan karena jarang menggunakan aplikasi pihak ke-3, proses sinkronisasi antar device juga terasa mulus karena sama-sama device Apple.

Saya juga berlangganan iCloud 200 GB untuk menampung semua file yang saya pindah dari Dropbox, untuk menampung semua lagu yang saya pindah dari Spotify, untuk menampung semua foto di Apple Photos, untuk menampung semua catatan yang sekarang saya satukan di Apple Notes, untuk menampung semua to do list di Apple Reminders yang saya pindah dari Wunderlist, untuk menampung semua bookmark Safari yang saya pindah dari Firefox, dan untuk menyimpan backup dari semua aplikasi yang saya pakai.

Sekian tulisan kali ini, lain kali akan saya coba bagikan pengalaman menggunakan aplikasi Apple lainnya.